Buang Tulisan “Buanglah Sampah pada Tempatnya”

 Secara umum, sampah adalah persoalan yang pelik di kota - kota besar. Banyaknya limbah sisa hasil produksi baik aktifitas manusia atau aktifitas produksi kian menumpuk. Segala upaya dan usaha dikerahkan untuk mengatasi hal ini. Sebenarnya tidak hanya masalah di perkotaan, di desa atau kampung persoalan sampah juga menjadi problem tersendiri. Sampah yang anorganik telah menjadi masalah yang  penyelesainnya belum tuntas. Artinya persoalan itu ada dan menjadi PR sampai kini.

 

Banyak usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Mulai dari pengadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), truk sampah, mobil pik up, motor sampah, hingga gerobak sampah. Di tempat - tempat strategis juga disediakan tempat sampah agar memudahkan orang orang membuang sampah. Tidak hanya itu, di mall atau pusat belanja modern, tenaga cleanning service selalu hadir. Pada sisi lain, tulisan larangan membuang sampah juga dipasang pada tempat - tempat strategis. Ini dilakukan sebagai upaya mencegah masyarakat membuang sampah secara sembarangan.

 

Bagaimana korelasi tulisan dengan realita di kehidupan? Apakah kesadaran masyarakat sudah tinggi?

Dua pertanyaan ini cukup membuat kita prihatin. Sebab dalam kehidupan di tatanan masyarakat, ternyata kesadaran masyarakat masih rendah. Bahkan kasat mata kita lihat sendiri, bagaimana mereka asiknya membuat sampah di sungai, jadilah sungai sebagai tempat sampah terpanjang. Kita juga melihat di jalan - jalan atau tempat tempat umum tanpa merasa berdosa mereka membuang sampah seenaknya. Sebatang rokok walaupun kecil tetaplah sampah. Begitu juga kulit permen juga sampah yang mestinya secara bijak didalam membuangnya. Ini menjawab alibi masyarakat yang katanya hanya sebatang rokok, atau cuma bungkus permen sehingga dibuang sembarangan.

 

Kalau kita kaji tulisan Buanglah Sampah Pada Tempatnya, sebenarnya cukup untuk membangunkan kesadaran masyarakat agar lebih tertib dan bertanggung jawab. Namun dalam kenyataannya belum bisa menumbuhkan atitude dalam diri masyarakat itu. Tulisan itu lebih pada kalimat perintah membuang pada poin pertama. Yang kedua jika ada tempat sampah. “ Buang di mana tempatnya saja tidak ada” begitu kata sebagian alasan masyarakat membuang sembarangan. Sebenarnya ada esensi yang lebih penting dari tulisan buanglah sampah pada tempatnya. Dan ini belum banyak diketahui oleh masyarakat. Jadi makna didalam kalimat itu yang mestinya digali untuk menjadi bagian kesadaran masyarakat akan sampah.

 

Sudah saatnya tulisan Buanglah Sampah Pada Tempatnya kita ganti menjadi “ Bijak Membuang Sampah sebagai pribadi yang Bertanggung Jawab, Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia” Memang secara tulisan cukup panjang bila dibanding dengan tulisan umum yang kita kenal selama ini. Namun dari tulisan tersebut terkandung makna yang sangat dalam didalam membentuk masyarakat yang berkarakter. Kalimat itu tersurat dari sebuah aktifitas membuang sam



pah di dalam korelasi kepribadian. Artinya tulisan itu lebih membangun semangat kepribadian daripada kalimat Buanglan Sampah Pada Tempatnya.

 

Ulasan dari kalimat Bijak membuang sampah sebagai pribadi yang bertanggung jawa, cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Sebagai pribadi yang bertanggung jawab. kalimat itu lebih menggugah masyarakat agar bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan. Pada sisi lain membangun jiwa yang bertanggung jawab. Seseorang yang membuang sampah sembarangan, tentu secara pribadi selesai, tapi hasil dari perbuatannya bisa menjadi masalah bagi orang lain. Secara tidak langsung dia melimpahkan masalah (sampah)nya pada orang lain. Bisa dikatakan lari dari tanggungjawab, karena penyelesaikan yang dilakukan belum tuntas secara penuh. Jadi pada aplikasinya membuang sampah pada tempatnya, jika tak ada disimpan untuk dibuang nanti.

 

Kalimat cinta alam itu menggugah kepedulian pada lingkungan sekitar. Sampah telah menjadi masalah lingkungan yang sangat serius. Hampir kerusakan lingkungan didominasi oleh sampah dan  limbah akibat ulah manusia. Bahkan tragedi kemanusiaan akibat sampah dan limbah telah menjadi ancaman yang nyata. Mulai dari krisis air bersih, pencemaran tanah, kerusakan lingkungan dan  bakteri yang mengancam kehidupan manusia. Oleh karena itu kesadaran harus segera dibangkitkan salah satunya adalah dengan mencintai alam ini. Hal yang sederhana dilakukan adalah jangan buang sampah sembarangan sebagai perwujudan cinta alam

 

Kalimat kasih sayang sesama manusia mempunyai arti sebagai perwujudan manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup secara sendiri. Sebaliknya dia membutuhkan manusia lain untuk interaksi dan menunjang hidupnya. Karena sebagai bagian dari manusia lain, maka perbuatan kita jangan sampai merugikan orang lain. Membuang sampah secara bijak juga tersirat makna kita berkasih sayang sesama manusia. Karena pribadi yang sadar, bahwa membuang sampah bisa menjadi masalah bagi orang lain, walaupun di kemudian hari.

 


Belum ada Komentar untuk "Buang Tulisan “Buanglah Sampah pada Tempatnya”"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel